1 tahun yg lalu

Kisah perjuangan Norodom Sihanouk, Bapak Kemerdekaan Kamboja (bagian 1)


Phnom Penh (ANTARA) - Di persimpangan Norodom Boulevard dan Sihanouk Boulevard yang ramai di Phnom Penh, ibu kota Kamboja, berdiri Monumen Kemerdekaan berwarna merah bata sebagai penghormatan kepada Norodom Sihanouk, Bapak Kemerdekaan Kamboja.

Sihanouk telah melalui perjalanan yang luar biasa selama 90 tahun yang penuh dengan suka dan duka.

Terlahir dalam keluarga kerajaan, Sihanouk menyaksikan dengan mata kepala sendiri malapetaka yang ditimbulkan oleh penjajah terhadap negaranya, yang membuatnya berkomitmen untuk berjuang mewujudkan kemerdekaan Kamboja. Dia sempat menjalani pengasingan yang panjang setelah kudeta dan memimpin Kamboja meraih kemerdekaan nasional sebelum kembali ke negaranya.

Kehidupan Sihanouk dikenal dengan perjuangannya yang tak kenal lelah untuk kemerdekaan, rekonsiliasi, pembangunan, dan revitalisasi Kamboja. Dia memainkan peranan penting dalam kebangkitan bangsa kuno tersebut.

Raja "Boneka"

Nama belakang Sihanouk berasal dari kakek buyutnya, Norodom. Kamboja jatuh di bawah kekuasaan kolonial pada masa pemerintahan Raja Norodom ketika kekuatan Barat memperluas cengkeraman mereka di kawasan tersebut.

Pada 1863, Laksamana Prancis Pierre-Paul de La Grandiere tiba di Udong, ibu kota Kamboja pada masa itu, dan memaksa Raja Norodom menandatangani sebuah perjanjian perlindungan. Tak lama setelah itu, Chasseloup-Laubat, menteri Angkatan Laut dan Koloni Prancis, menetapkan Kamboja sebagai wilayah protektorat Prancis, sehingga berdirilah Sekolah Menengah Chasseloup-Laubat di Saigon (kini Ho Chi Minh City, Vietnam), yang merupakan almamater Sihanouk dan ayahnya, Suramarit.

Raja Norodom, yang menentang aneksasi negaranya, mengumumkan reformasi ambisius yang bertujuan untuk mengatasi stagnasi negara itu dan mencapai kemandirian. Namun, reformasi ini pada dasarnya tidak dapat diterima oleh kekuatan kolonial.

Pada 1884, Charles Thomson, gubernur jenderal Prancis di Cochinchina pada saat itu, mengabaikan dalih "perlindungan" dan menyerbu Istana Kerajaan Kamboja dengan pasukannya. Di bawah tekanan, Raja Norodom dipaksa menyerahkan seluruh kekuasaannya melalui sebuah perjanjian, yang secara efektif menyerahkan kendali atas Kamboja di setiap tingkatan kepada Prancis.

Seperti yang ditulis Sihanouk dalam memoarnya, "Raja Norodom kehilangan seluruh kekuasaannya sejak menandatangani perjanjian 1884 yang dipaksakan kepadanya oleh Prancis... Perjanjian ters...

Baca Seluruh Artikel

© Rileks 2026. Semua hak dilindungi undang-undang